Percaya tidak hanya di mulut tapi di dalam hati
Hi guys, i hope you enjoy with ma Blog
I want to introduce Maself to you,All. My name is Meg and I'm 16years old.
I was born in Borneo, Indonesia.
saya ingin membagi beberapa pengalaman tentang saya dan keluarga saya mengenai hal kepercayaan. SANTAI dan SERIUS tetapi tidak menghilangkan unsur kesenangan.
Banyak sekali hal yang membingungkan tentang kepercayaan, namun semuanya kembali pada diri kita sendiri. apapun kepercayaan itu semuanya baik yang terpenting adalah bagaimana kita berperilaku sebaik-baiknya sebagai seorang yang percaya terhadap sesuatu hal itu. di Indonesia ada banyak contoh umat beragama dari berbagai macam agama dan itulah keajaiban. sebaiknya, sebagai umat yang tau akan agama kita tidak boleh salig diskriminasi melainkan harus saling menghomati dan mengasihi satu sama lain.
karena pada kenyataannyaTUHAN menciptakan berbagai macam agama untuk memberi kita sebuah piihan, lewat mana kita dapat percaya dan melakukan hal baik tanpa paksaan. dan tuhan menganjurkan kita untuk menyembahnya dengan satu cara saja, BUKAN berarti TUHAN menciptakan satu agama yang harus kita pertanggung jawabkan di hari akhir.
Saya pernah mendengar tentang "Percaya" kata ini sangat bermakna.
saat itu ada sebuah cerita yang menceritakan seorang Magician sedang melakukan debus. ia meyakinkan beberapa penonton yang ada di dalam gedung hingga banyak dari mereka "percaya".
ketika Magician itu bertanya. "Apa kalian percaya aku dapat melakukan ini?"
jawabnya : Ya, kami percaya.
Magician : Baiklah, kalau begitu apa ada yang mau menemani saya disini? (Magician itu mempersiapkan alat yang menakutkan untuk mencoba debusnya) namun semua penonton terdiam.
Magician bertanya lagi : "Apa kalian percaya saya dapat melakukan ini?"
Jawabnya : Ya kami percaya.
Magician : "apa ada yang mau menemani saya?"- namun semua penonton tetap terdiam
dan terakhir, " Apa kalian percaya pada ku? "
kali ini, tidak ada yang menjawab. namun tiba-tiba berdirilah seseorang yang tidak diketahui siapa itu menjawab dengan sungguh-sungguh dan tegas. " Aku percaya pada mu, aku yang akan menemanimu untuk membuktikan pada mereka." dan dengan bangga Magician itu memberinya applause serta mengulurkan tangannya pada orang hebat itu.
inilah tanda bahwa percaya di mulut akan tidak berguna, seperti mempunyai iman yang mati.
Apa kita termasuk pada gologan orang yang mengaku beragama tapi tidak pernah menjalankan kewajiban kita??
Jika tidak, maka seharusnya kita bisa lebih memahami diri sendiri, bagaimana kita bersikap, pada siapa kita percaya, pada siapa kita berdoa, dan pada siapa kita mempertanggung jawabkan hal ini.
sungguh, apapun yang ada di dalam kehidupan kita penuh dengan pilihan. kita harus memilih yang mana yang baik dan yang mana yang buruk.
Namun, kita harus percaya dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya iman.
Be yourself guys
Thanks :)
I want to introduce Maself to you,All. My name is Meg and I'm 16years old.
I was born in Borneo, Indonesia.
saya ingin membagi beberapa pengalaman tentang saya dan keluarga saya mengenai hal kepercayaan. SANTAI dan SERIUS tetapi tidak menghilangkan unsur kesenangan.
Banyak sekali hal yang membingungkan tentang kepercayaan, namun semuanya kembali pada diri kita sendiri. apapun kepercayaan itu semuanya baik yang terpenting adalah bagaimana kita berperilaku sebaik-baiknya sebagai seorang yang percaya terhadap sesuatu hal itu. di Indonesia ada banyak contoh umat beragama dari berbagai macam agama dan itulah keajaiban. sebaiknya, sebagai umat yang tau akan agama kita tidak boleh salig diskriminasi melainkan harus saling menghomati dan mengasihi satu sama lain.
karena pada kenyataannyaTUHAN menciptakan berbagai macam agama untuk memberi kita sebuah piihan, lewat mana kita dapat percaya dan melakukan hal baik tanpa paksaan. dan tuhan menganjurkan kita untuk menyembahnya dengan satu cara saja, BUKAN berarti TUHAN menciptakan satu agama yang harus kita pertanggung jawabkan di hari akhir.
Saya pernah mendengar tentang "Percaya" kata ini sangat bermakna.
saat itu ada sebuah cerita yang menceritakan seorang Magician sedang melakukan debus. ia meyakinkan beberapa penonton yang ada di dalam gedung hingga banyak dari mereka "percaya".
ketika Magician itu bertanya. "Apa kalian percaya aku dapat melakukan ini?"
jawabnya : Ya, kami percaya.
Magician : Baiklah, kalau begitu apa ada yang mau menemani saya disini? (Magician itu mempersiapkan alat yang menakutkan untuk mencoba debusnya) namun semua penonton terdiam.
Magician bertanya lagi : "Apa kalian percaya saya dapat melakukan ini?"
Jawabnya : Ya kami percaya.
Magician : "apa ada yang mau menemani saya?"- namun semua penonton tetap terdiam
dan terakhir, " Apa kalian percaya pada ku? "
kali ini, tidak ada yang menjawab. namun tiba-tiba berdirilah seseorang yang tidak diketahui siapa itu menjawab dengan sungguh-sungguh dan tegas. " Aku percaya pada mu, aku yang akan menemanimu untuk membuktikan pada mereka." dan dengan bangga Magician itu memberinya applause serta mengulurkan tangannya pada orang hebat itu.
inilah tanda bahwa percaya di mulut akan tidak berguna, seperti mempunyai iman yang mati.
Apa kita termasuk pada gologan orang yang mengaku beragama tapi tidak pernah menjalankan kewajiban kita??
Jika tidak, maka seharusnya kita bisa lebih memahami diri sendiri, bagaimana kita bersikap, pada siapa kita percaya, pada siapa kita berdoa, dan pada siapa kita mempertanggung jawabkan hal ini.
sungguh, apapun yang ada di dalam kehidupan kita penuh dengan pilihan. kita harus memilih yang mana yang baik dan yang mana yang buruk.
Namun, kita harus percaya dan melaksanakannya dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya iman.
Be yourself guys
Thanks :)
Komentar
Posting Komentar